1:18 PM

Biografi Raisa Andriana - Penyanyi Indonesia

Salah satu penyanyi terkenal yang pernikahannya menghebihkan Indonesia adalah Raisa. Bernama lengkap Raisa Andriana,  ia lahir di Jakarta 6 Juni 1990. Selain menjadi penyanyi, Raisa juga dikenal sebagai model iklan dan pemain film. Ia ada di bawah label Juni Records (2015-sekarang) dan juga Universal Music Indonesia (2011-2015).

Bakat menyanyi Raisa muncul sejak usia dini. Di usia 3 tahun, Raisa sering tampil berpura-pura seperti penyanyi sungguhan di atas panggung. Musikalitas Raisa banyak terinspirasi dari musisi kenamaan Amerika Serikat seperti Brian McKnight, Alicia Keys, dan Joss Stone.

Pada awal karier bernyanyinya, Raisa sempat digandeng komposer kenamaan David Foster untuk tampil di konsernya di Jakarta. Pada 2008, Raisa pun pernah menjadi vokalis band bentukan Kevin Aprilio, Andante, yang merupakan cikal bakal dari berdirinya band Vierra (sekarang Vierratale). Pada awal berdirinya, Andante mempunyai 5 orang personel yaitu Raisa, Widy Soediro Nichlany, Raka Cyril, Satrianda Widjanarko, dan Kevin Aprilio sendiri, tetapi karena pihak label menginginkan konsep yang berbeda, Raisa terpaksa dieliminasi dari band tersebut.

Raisa banyak menyanyi reguler di kafe-kafe musik. Dari kesempatan menyanyi di kafe-kafe tersebut, Raisa mendapatkan banyak peluang dalam karier bermusik

Raisa mulai dikenal publik setelah merilis debut single solonya yang berjudul Serba Salah. single ini dirilis secara digital pada website media sosial dan diputar lebih dari 10.000 di Myspace, facebook dan Twitter.  Video akustiknya sendiri diunggah ke YouTube pada tanggal 3 November 2010 dan membuatnya jadi populer.

Baca juga : Biografi Nella Kharisma 


Kepopulerannya membuat Raisa diundang sebagai salah satu bintang pengisi acara dalam event Java Jazz Festival 2011. Performa Raisa di panggung Java Jazz Festival tersebut makin melejitkan kariernya hingga Raisa mendapatkan penghargaan di Anugerah Musik Indonesia 2012 sebagai Pendatang Baru Terbaik-Terbaik.

Pada 2011, album eponim debutnya berjudul Raisa diproduksi dan dirilis oleh Solid Records dan Universal Music Indonesia. Produser album tersebut adalah 3 musisi muda Indonesia, yaitu Asta Andoko (RAN), serta Ramadhan Handy dan Adrianto Ario Seto (Soulvibe). Nanda Oka dan Asta Andoko berlaku sebagai Executive Producer dalam album tersebut.

Pada 2012, Raisa meraih penghargaan Anugerah Planet Muzik 2012 sebagai Best New Female Artiste.

Pada 2016 album Eponim duet terbaru bersama Shae diproduksi dan dirilis oleh Warner Music Indonesia.

Pada 27 November 2013, Raisa merilis album keduanya Heart to Heart,[3] di Soehana Hall, Gedung Energy, Jakarta Selatan. Album tersebut berisikan 9 lagu; Bersinar, Hari Bahagia, Pemeran Utama, Teka-teki, Let Me be(I Do), Katakan!, LDR, Bye-bye dan Mantan Terindah. Lagu Bye-bye dan Mantan Terindah telah dirilis sebagai single pertama dan kedua, secara berurutan, dari Album Heart to Heart ini. Kepada media, Raisa memberikan pesan jelas bahwa ia "bukan penyanyi aji mumpung" karena karya musik dan kemampuan vokalnya "lebih matang dari album sebelumnya". Selain peluncuran album tersebut, Raisa pun mengadakan Konser Showcase album Heart to Heart secara khusus untuk media/wartawan dan 300 orang YourRaisa (sebutan bagi para penggemar Raisa) yang telah terpilih sebelumnya melalui pre-order Box Set Raisa di http://raisa.flagig.com. Konser tersebut digelar dengan tata ruang yang "menyenangkan" dengan tema "gembira versi Raisa".

Pada 2014, Raisa ditunjuk sebagai juri tamu ajang pencarian bakat televisi Indonesian Idol Season 8 atau Indonesian Idol 2014. Pada awalnya Raisa hanya menjadi juri tamu babak audisi umum di kota Yogyakarta, tetapi karena formasi juri tidak lengkap pada beberapa babak siaran langsung, Raisa ditunjuk menggantikan posisi juri yang kosong pada babak-babak tersebut.


Pada Februari 2015, produsen film animasi terbesar di dunia Walt Disney Pictures menggandeng Raisa untuk menyanyikan lagu soundtrack di film terbaru Disney, Cinderella, yang berjudul A Dream is a Wish Your Heart Makes versi Bahasa Indonesia dengan judul "Mimpi adalah Harapan Hati". Film tersebut turut dibintangi Cate Blanchett.

Baca juga : Biografi Oki Setia Dewi


Pada Mei 2015, Raisa berhasil membuat konser solo pertamanya di Istora Senayan, Jakarta. Antusiasme yang tinggi dari para penggemarnya, membuat promotor Juni Concert yang saat itu dibantu oleh Dyandra Promosindo melanjutkan konser solo keduanya di DBL Arena, Surabaya. Konser solo pertama ini mengambil tema Pemeran Utama, yang juga adalah salah satu single sukses Raisa.

Album Raisa
•    Raisa (2011)
•    Heart to Heart (2013)

Raisa pernah menjalin asmara dengan salah satu personil grup band Tangga Mohammed Kamga dan Keenan Pearce, kakak kandung aktris Pevita Pearce Raisa menikah dengan Hamish Daud pada hari Minggu, tanggal 3 September 2017 di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta. Ia bersekolah di SD : Dian Didaktika, SMP : Dian Didaktika, SMA : SMAN 34 Jakarta dan Universitas: Universitas Bina Nusantara.

Penghargaan

Banyak penghargaan yang telah diraih Raisa, di antaranya
  • Anugrah Musik Indonesia tahun 2012 sebagai Penyanyi Pendatang Baru Terbaik.
  • Anugrah Musik Indonesia tahun 2014 dalam Karya Produksi Rhythm n Blues/Soul Terbaik\
  • Anugerah Planet Muzik tahun 2012 sebagai Persembahan Vokal Terbaik Dalam Lagu (Artis Baru Wanita)
  • Hai Reader's Poll Music Awards tahun 2013 sebagai Best Female
  • Indonesian Choice Awards tahun 2014  untuk kategori Female Singer Of The Year, Song Of The Year dan Album Of The Year.
  • Nickelodeon Indonesia Kids' Choice Awards tahun 2015 sebagai Penyanyi Favorit
  • Yahoo OMG! Awards Indonesia 2013 sebagai Most Wanted Female
  •  Mnet Asian Music Awards tahun 2014 sebagai Best Asian Artist.


       

10:59 AM

Biografi Amir Hamzah - Sastrawan Indonesia

Amir Hamzah merupakan seorang tokoh yang memberikan pengaruh dalam bidang sastra Indonesia. Beliau bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera, termasuk sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Amir lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, 28 Februari 1911 – meninggal di Kwala Begumit, Binjai, Langkat, Indonesia, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun.

Nama Amir Hamzah diberikan oleh sang ayah, Tengku Muhammad Adil, karena kekagumannya kepada Hikayat Amir Hamzah. Dia lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur pada tanggal 28 Februari 1911 dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat).

Amir Hamzah mulai mengenyam pendidikan pada umur 5 tahun dengan bersekolah di Langkatsche School di Tanjung Pura pada 1916. Setamat dari Langkatsche School, Amir Hamzah melanjutkan pendidikannya di MULO, sekolah tinggi di Medan. Setahun kemudian, Amir Hamzah pindah ke Batavia (Jakarta) untuk melanjutkan sekolah di Christelijk MULO Menjangan dan lulus pada tahun  1927. Amir Hamzah kemudian melanjutkan studinya di AMS (Aglemenee Middelbare School), sekolah lanjutan tingkat atas di Solo, Jawa Tengah.

Di sana dia mengambil disiplin ilmu pada Jurusan Sastra Timur. Amir Hamzah adalah seorang siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi. Disiplin dan ketertiban itu nampak pula dari keadaan kamarnya. Segalanya serba beres, buku-bukunya rapih tersusun di atas rak, pakaian tidak tergantung di mana saja, dan sprei tempat tidurnya pun licin tidak kerisit kisut. Persis seperti kamar seorang gadis remaja.

Baca juga : Biografi Chairil Anwar

Selama mengenyam pendidikan di Solo, Amir Hamzah mulai mengasah minatnya pada sastra sekaligus obsesi kepenyairannya. Pada waktu-waktu itulah Amir Hamzah mulai menulis beberapa sajak pertamanya yang kemudian terangkum dalam antologi Buah Rindu yang terbit pada tahun 1943. Pada waktu tinggal di Solo, Amir Hamzah juga menjalin pertemanan dengan Armijn Pane dan Achdiat K Mihardja. Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS Solo, bahkan mereka satu kelas di sekolah itu. Di kemudian hari, ketiga orang ini mempunyai tempat tersendiri dalam ranah kesusastraan di Indonesia.


Setelah menyelesaikan studinya di Solo, Amir Hamzah kembali ke Jakarta untuk melanjutkan studi ke Sekolah Hakim Tinggi pada awal tahun 1934. Semasa di Jakarta, rasa kebangsaan di dalam jiwa Amir Hamzah semakin kuat dan berpengaruh pada wataknya. Bersama beberapa orang rekannya di Perguruan Rakyat, termasuk Soemanang, Soegiarti, Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, dan lainnya, Amir Hamzah menggagas penerbitan majalah Poedjangga Baroe.

Amir Hamzah mulai menyiarkan sajak-sajak karyanya ketika masih tinggal di Solo. Di majalah Timboel yang diasuh Sanusi Pane, Amir Hamzah menyiarkan puisinya berjudul “Mabuk” dan “Sunyi” yang menandai debutnya di dunia kesusastraan Indonesia. Sejak saat itu, banyak sekali karya sastra yang dibuat oleh Amir Hamzah.

Penghargaan dan Pengakuan Umum
Amir telah menerima pengakuan yang luas dari pemerintah Indonesia, dimulai dengan pengakuan dari pemerintah Sumatera Utara segera setelah kematiannya. Pada tahun 1969 ia secara anumerta dianugerahi Satya Lencana Kebudayaan dan Piagam Anugerah Seni. Pada tahun 1975 ia dinyatakan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Sebuah taman dinamakan untuknya, Taman Amir Hamzah, yang berlokasi di Jakarta di dekat Monumen Nasional.  Sebuah masjid di Taman Ismail Marzuki yang dibuka untuk umum pada tahun 1977, juga dinamakan untuknya. Beberapa jalan diberi nama untuk Amir, termasuk di Medan, Mataram, dan Surabaya.

Teeuw menganggap Amir sebagai satu-satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari era sebelum Revolusi Nasional Indonesia. Anwar menulis bahwa penyair ini adalah "puncak gerakan Pudjangga Baru", mengingat Nyanyi Sunyi telah menjadi "cahaya terang yang disinarkan dia [Amir] di atas bahasa baru" namun, Anwar tidak menyukai Buah Rindu, menganggapnya terlalu klasik. Balfas menggambarkan karya Amir sebagai "karya sastra terbaik yang mengungguli era mereka". Karya Hamzah, khususnya "Padamu Jua", diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia. Karyanya juga salah satu inspirasi untuk drama panggung posmodern 1992 Afrizal Malna, Biografi Yanti setelah 12 Menit.

Baca juga : Biografi Dewi Lestari

Kematiannya
Revolusi sosial yang meletus pada 3 Maret 1946 menjadi akhir bagi kehidupan Amir Hamzah. Dia menjadi salah satu korban penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Pesindo. Kala itu pasukan Pesindo menangkapi sekitar 21 tokoh feodal termasuk di antaranya adalah Amir Hamzah pada 7 Maret 1946. Pada tanggal 20 Maret 1946, orang-orang yang ditangkap itu dihukum mati. Amir Hamzah wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi.

Amir Hamzah kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975
Hingga kematiannya, Amir Hamzah telah mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa, dan 1 prosa terjemahan. Jumlah keseluruhan karya itu adalah 160 tulisan. Jumlah karya tersebut masih ditambah dengan Setanggi Timur yang merupakan puisi terjemahan, dan terjemahan Bhagawad Gita. Dari jumlah itu, ada juga beberapa tulisan yang tidak sempat dipublikasikan.

Sebagai seorang sastrawan, karya karya amir hamzah masih dikenal hingga saat ini. sebagian besar tulisannya, termasuk puisi Amir Hamzah nyanyi sunyi, diterbitkan Poedjangga Baroe. Begitu juga puisi Amir Hamzah buah rindu.

10:52 AM

Biografi Sapardi Djoko Damono - Sastrawan Indonesia

Salah satu sastrawan Indonesia yang produktif menerbitkan karya adalah Sapardi Djoko Damono. Beliau aktif menulis sejak berusia 13 tahun dan sudah menerbitkan lebih dari 27 buku. Buku-buku beliau bukan hanya puisi dan cerpen, melainkan juga buku non fiksi seperti Sastra Lisan Indonesia (1983).

Riwayat hidup

Sapardi Djoko Damono (SDD) lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Sapardi merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Sadyoko adalah abdi dalem di Keraton Kasunanan, mengikuti jejak kakeknya. Berdasarkan kalender Jawa, ia lahir di bulan Sapar. Hal itu menyebabkan orang tuanya memberinya nama Sapardi. Menurut kepercayaan orang Jawa, orang yang lahir di bulan Sapar kelak akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.

Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

PENDIDIKAN 

  • Sekolah Dasar Kasatrian
  • SMP II Mangkunagaran
  •  SMA II di Margoyudan
  • Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

KARIR 
  • Guru Besar Ilmu Sastra
  • Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  • Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  • Ketua Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  • Pendiri Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI)
  • Dosen Universitas Diponegoro
  • Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia
  • Dosen tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  • Anggota Dewan Kesenian Jakarta
  • Pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jassin
  • Anggota redaksi majalah kebudayaan Basis
  • Country editor untuk majalah Tenggara
  • Koresponden untuk Indonesian Circle
  • Pendiri Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi

Karier Menulis

Awal karir menulis Sapardi dimulai dari bangku sekolah.  Pada masa itu, beliau sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah “Horison”, “Basis”, dan “Kalam”.


Baca juga : Biografi Asma Nadia

Dari kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bermain drama, dan sastrawan, tampaknya bidang sastralah yang paling menonjol dimilikinya. Pria yang dijuluki sajak-sajak SDD ini tidak hanya menulis puisi, namun juga cerita pendek. Ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola. Sapardi juga sedikit menguasai permainan wayang, karena kakeknya selain menjadi abdi dalem juga bekerja sebagai dalang.

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar. Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Di dunia fiksi, Sapardi telah menghasilkan 27 buku, di antaranya berupa terjemahan dan karangannya sendiri seperti Duka-Mu Abadi (1969), Membunuh Orang Gila (2003) dan Namaku Sita (2012).

Ia tidak hanya menulis fiksi, tetapi juga non fiksi. Di ranah nonfiksi, Sapardi setidaknya telah menelurkan delapan buku yang semuanya menjadi rujukan penting di dunia kesusastraan Indonesia, seperti Sastra Lisan Indonesia (1983) dan Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978).

Sebagai seorang penulis hebat, Sapardi juga memiliki tokoh penulis favorit. Penulis Indonesia yang dia kagumi yaitu Armijn Pane (1908-1970) dengan  novelnya berjudul Belenggu .  Selain itu, dia juga menyukai karya-karya Muchtar Lubis (1922-2004). Sementara penulis luar, Sapardi mengagumi karya-karya adalah Ernest Hemingway dan juga sastrawan Prancis, Albert Camus.



PENGHARGAAN
•    Cultural Award dari Australia (1978)
•    Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)
•    SEA Write Award dari Thailand (1986)
•    Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)
•    Mataram Award (1985)
•    Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI
•    Penghargaan Achmad Bakrie (2003)

Karya Fiksi

Fiksi (Puisi dan Prosa)
  • "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
  • "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
  • "Mata Pisau" (1974)
  • "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
  • "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
  • "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
  • "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
  • "Perahu Kertas" (1983)
  • "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
  • "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
  • "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
  • "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
  • "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
  • "Hujan Bulan Juni" (1994)
  • "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
  • "Arloji" (1998)
  • "Ayat-ayat Api" (2000)
  • "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
  • "Mata Jendela" (2002)
  • "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
  • "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
  • "Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
  • "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
  • "Before Dawn: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (2005; translated by J.H. McGlynn)
  • "Kolam" (2009; kumpulan puisi)
  • "Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita" (2012)
  • "Namaku Sita" (2012; kumpulan puisi)
  • "The Birth of I Lagaligo" (2013; puitisasi epos "I La Galigo" terjemahan Muhammad Salim, kumpulan puisi dwibahasa bersama John McGlynn)
  • "Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak" (edisi 1994 yang diperkaya dengan sajak-sajak sejak 1959, 2013; kumpulan puisi)
  • "Trilogi Soekram" (2015; novel)
  • "Hujan Bulan Juni" (2015; novel)
  • "Melipat Jarak" (2015, kumpulan puisi 1998-2015)
  • "Suti" (2015, novel)
Baca juga : Biografi Dewi Lestari

Karya Non Fiksi

  • "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
  • "Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan"
  • "Dimensi Mistik dalam Islam" (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel "Mystical Dimension of Islam", salah seorang penulis.
  • "Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia" (2004), salah seorang penulis.
  • "Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas" (1978).
  • "Politik ideologi dan sastra hibrida" (1999).
  • "Pegangan Penelitian Sastra Bandingan" (2005).
  • "Babad Tanah Jawi" (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).
  • "Bilang Begini, Maksudnya Begitu" (2014), buku apresiasi puisi.

Sebagai sastrawan terkenal, beliau juga aktif menggunakan media sosial. Untuk mengenal lebih dekat dengan Sapardi Djoko Damono, kunjungilah akun  Twitter-nya @SapardiDD.


9:12 AM

Biografi Dewi Lestari - Sastrawan Indonesia

Bagi penggiat literasi di Indonesia, pasti sudah kenal dengan Dewi Lestari atau biasa disapa Dee.
Dee atau yang oleh para pembacanya juga disebut MakSuri, merupakan salah satu penulis atau sastrawan Indonesia yang terkenal dengan novel Supernova. Wanita bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong ini lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976 dari pasangan Yohan Simangunsong dan Tiurlan Siagian. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Tiga saudara perempuannya juga aktif di bidang seni. Kakak perempuannya, Key Mangunsong, adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kakak perempuan keduanya, Imelda Rosalin adalah seorang pianis dan penyanyi jazz. Adik perempuannya, Arina Ephipania, adalah seorang penyanyi dan merupakan vokalis band Mocca.

Dee bersekolah di SDN Banjarsari III Bandung, SMPN 2 Bandung, SMAN 2 Bandung, lulus tahun 1998 sebagai Sarjana Ilmu Politik dari FISIP Universitas Parahyangan Bandung jurusan Hubungan Internasional.

Karier Musik

Dee pertama kali dikenal masyarakat sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. sejak masih di bangku sekolah dasar, Dee aktif di kegiatan vokal grup, paduan suara, dan band sekolah. Dee tercatat pernah menjadi anggota grup vokal Highlight Voices dan paduan suara Glorify Lord Ensemble di bawah pimpinan Daud Saba. Di Bandung, Dee juga pernah dilatih oleh para pelatih vokal seperti Erry RAF, Yoseph, Deden AZ, dan Elfa Secioria.

Semasa sekolah, tim yang diikuti Dee kerap menjuarai berbagai perlombaan vokal group dan paduan suara. Tahun 1993 di SMAN 2 Bandung, Dee mempelopori pentas seni From 2 With Love yang menjadi cikal bakal tren “pensi” sekolah. From 2 With Love masih bertahan menjadi tradisi SMAN 2 Bandung hingga kini.
Selepas SMA tahun 1993, Dee mengawali karier musiknya sebagai penyanyi latar Iwa K bersama Sita (yang kelak menjadi teman grupnya di Rida Sita Dewi). Selama dua tahun menjadi penyanyi latar, Dee pernah bekerja sama dengan banyak penyanyi dan grup papan atas Indonesia, antara lain Java Jive, Emerald, Padhyangan Project, Project Pop, Harvey Malaiholo, dan Chrisye.



baca juga : Biografi Asma Nadia

Dua produser yang tergabung dalam Warna Musik, Adi Adrian dan Adjie Soetama, berniat membentuk trio vokal perempuan. Sita yang sudah menyanyi bersama Dee sejak bangku sekolah mengajaknya ikut serta. Sementara Rida direkomendasikan oleh penyanyi Andre Hehanussa. Di Bandung, mereka merekam demo lagu pertama mereka yang diciptakan oleh Andre Hehanussa dan Adjie Soetama berjudul Antara Kita. Album pertama Rida Sita Dewi (RSD), Antara Kita, dirilis pada tahun 1995, menyusul album kedua Bertiga (1997). Album ketiga yakni Satu (1999) dan album terakhir mereka The Best of RSD (2002) dirilis oleh Sony Music Indonesia.

Berbekal pelajaran piano klasik yang pernah dikecapnya waktu kecil selama dua tahun dan electone selama tiga tahun, Dee banyak menulis lagu dengan bantuan piano. Ia mulai menulis lagu sejak kelas 5 SD, tapi baru setelah bergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD) Dee mulai dikenal sebagai penulis lagu profesional. Lagu pertamanya yang masuk dapur rekaman adalah Satu Bintang Di Langit Kelam (1995) dan menjadi salah satu hits single Rida Sita Dewi. Lagu tersebut pernah dinyanyikan ulang oleh vokalis Chandra Satria.

Lagu hits Dee berikutnya adalah Firasat, yang dibawakan oleh Marcell di album pertamanya. Firasat dinyanyikan ulang oleh Raisa untuk OST film Rectoverso. Pada tahun 2006, Dee mengeluarkan album pertamanya yang berbahasa Inggris bertajuk Out of Shell dengan single Simply. Tahun 2008, sebagai bagian dari karya hibrida buku dan musiknya, Dee mengeluarkan album Rectoverso dengan single antara lain: Malaikat Juga Tahu, Peluk (duet bersama Aqi Alexa), dan Aku Ada (duet bersama Arina Mocca). Ketika Rectoverso difilmkan, Glenn Fredly menyanyikan ulang Malaikat Juga Tahu.

Dee kembali terlibat dalam dunia musik ketika bukunya Perahu Kertas diadaptasi menjadi film. Dua single OST film tersebut yakni Perahu Kertas dan Tahu Diri, dipopulerkan oleh Maudy Ayunda. Di album yang sama, Dee juga menulis Dua Manusia (Dendy), Langit Amat Indah (Rida Sita Dewi), A New World (Nadya Fatira).

Semasa karier musiknya, Dee juga sering berkolaborasi sebagai penulis lirik, di antaranya dengan Adjie Soetama, Kahitna, Yovie Widianto, dan Noah. Pada 2016, Dee kembali menulis single untuk Raisa berjudul Kali Kedua.

Karier Menulis

Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul "Sikat Gigi" pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul "Ekspresi" ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul "Rico the Coro" yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.

Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.

Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.



baca juga: Biografi Taufik Ismail

Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul "Akar" pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

Pada bulan Januari 2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.

Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yaitu RECTOVERSO yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tetapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Website khusus mengenai ulasan buku RECTOVERSO ada di www.dee-rectoverso.com

Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas. Tahun 2012, Dee kembali mengeluarkan novel lanjutan serial Supernova yang berjudul PARTIKEL dengan tokoh utama Zarah.
Oktober 2014, Dee menerbitkan novel lanjutan serial Supernova yang berjudul GELOMBANG dengan tokoh utama Alfa.

Pada tanggal 26 Februari 2016, novel terakhir serial Supernova dengan judul Inteligensia Embun Pagi (IEP) telah beredar di toko buku di Indonesia, dimana sebelumnya Dee menjualnya dengan sistem pre order IEP bertandatangan yang dilangsungkan selama 19 hari. Akibat yang harus ia tanggung adalah menandatangani ribuan buku IEP pesanan pembaca setianya, atau yang

Kehidupan pribadi

Dee menikah dengan penyanyi R&B, Marcell Siahaan pada 12 September 2003. Melalui pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Keenan Avalokita Kirana (lahir 5 Agustus 2004). Pernikahan ini berakhir setelah Dee menggugat cerai Marcell di Pengadilan Negeri Bale Bandung pada 27 Juni 2008. Dee kemudian menikahi seorang pakar penyembuhan holistik, Reza Gunawan, pada 11 November 2008 di Sydney.

Sekarang Dee tinggal di kawasan Tangerang Selatan bersama Reza dan kedua anaknya, Keenan dan Atisha.
Pada pertengahan Agustus 2012 film PERAHU KERTAS yang diadaptasi dari novelnya mulai tayang di bioskop di seluruh Indonesia. Film arahan Hanung Brahmantyo ini menaruh nama Maudy Ayunda dan Adipati Dolken sebagai peran utama. Dewi Lestari pun ikut muncul sebagai peran pembantu.

Selain PERAHU KERTAS, karya Dewi lainnya yang akan diangkat ke layar lebar adalah RECTOVERSO dan MADRE. RECTOVERSO merupakan film omnibus yang digarap oleh 5 sutradara berbeda yaitu Cathy Sharon, Olga Lidya, Marcella Zalianty, Rachel Maryam dan Happy Salma. Lima sutradara tersebut masing-masing akan menggarap film dari cerpen dalam buku RECTOVERSO yang berjudul Cicak di Dinding, Curhat Buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Firasat dan Hanya Isyarat.

Dee kerap membagikan foto-foto keluarga di akun Instagram Pribadinya. Berikut data-data akun media sosial yang dimiliki Dewi Lestari.

Twitter : @deelestari
Instagram : @deelestari
Facebook  Fans Page : https://www.facebook.com/Dee-Lestari-6846134641/

9:25 AM

Biografi dan Profil Nella Kharisma - Penyanyi Dangdut

Biografi tokoh kali ini akan mengulas Nella Kharisma. Perempuan kelahiran Kediri, 4 November 1994 ini adalah salah satu penyanyi dangdut, yang mengawali kariernya di tahun 2015 dengan menyanyi dari panggung ke panggung bersama grup Monata.

Loncatan kariernya terjadi di  Tahun 2017  saat bergabung dengan perusahaan rekaman PT Pancal Records Indonesia, di mana dia mengeluarkan album baru yang bertajuk Goyang Reggae, Stop Galau dan Indonesia Sehat bersama penyanyi lain, di antaranya Ratna Antika dan Sodiq Monata.
Saat ini, Nella dikenal sebagai salah satu penyanyi dangdut koplo yang masih berpenampilan sopan dan kharismatik. Suaranya yang khas dan enak didengarkan, serta parasnya yang ayu menjadi modal yang cukup untuk membuat penonton terkesima di setiap penampilannya.

Nella Kharisma Viral di Youtube
Pada awalnya, biduan ayu ini pentas di atas panggung dengan menyanyikan semua jenis lagu populer Indonesia yang diaransemen ulang dengan gaya dangdut koplo. Perjuangannya bersama Orkes Melayu lokal kemudian membuahkan hasil dan membawa dirinya selevel dengan para artis Ibu Kota. Tak selang beberapa lama, aksi panggungnya diunggah di Youtube oleh para penggemarnya, tak disangka hal ini membuat namanya terdengar sampai ke penjuru negeri.

Lagu NDX a.k.a Famillia yang dinyanyikan oleh Nella Kharisma yang berjudul "Remuking Ati", "Aku cah Kerjo" dan "Kimcil Kepolen" semakin mendongkrak karirnya secara pesat.  Hal ini kemudian dijadikan kesempatan dirinya untuk membuat lagu single terbaru lagu jawa yang berjudul "Konco Mesra" yang dinaungi oleh Samudra Record dan juga diunggah secara official di Youtube.


baca juga : Biografi Rhoma Irama - Si Raja Dangdut

Sampai saat ini nama Nella Kharisma masih terus berkibar di kancah musik dangdut koplo. Meskipun sekarang dirinya sudah mulai masuk industri rekaman, namun tak jarang biduan cantik nan sintal ini masih sering muncul dalam aksi panggung bersama Orkes Melayu The Rosta dan lainnya yang telah membawanya ke puncak kepopuleran. Bahkan sekarang sudah ada nama fansnya yaitu Nellalovers.

Album
•    Monata Goyang Reggae
•    Goyang Reggae
•    Stop Galau
•    Indonesia Sehat
•    Nella Kharisma & Mahesa

Baca juga : Biografi Cinta Laura 

Profil singkat Nella Kharisma:

Nama lahir :    Nella Tri Charisma
Lahir  :   04 November 1994 (umur 22)  Kediri , Jawa Timur, Indonesia
Jenis musik  :  Pop & Dangdut
Pekerjaan :   Penyanyi
Tahun aktif  :   2015–sekarang
Perusahaan rekaman  : Pancal Records
Agama :    Islam
Situs resmi  :  pancalrecords.com
FACEBOOK : www.facebook.com/nellakharisma.official
TWITTER @nellalovers_id
Instagram @nellakharisma
CP Job 085735123000 // 082220000120
Warna Favorit : Biru
Status : Belum Menikah

1:42 PM

Biografi Muhammad Ali, Sang Petinju Legendaris Dunia

Biografi Muhammad Ali, Sang Petinju legendaris Dunia

Muhammad Ali (lahir Cassius Marcellus Clay, Jr. 17 Januari 1942 - 3 Juni 2016) adalah seorang juara dunia tinju dan juga Olimpiade. Ia memiliki kepribadian yang unik, berdasarkan keyakinan diri, keyakinan agama dan politik yang kuat. Pada tahun 1999, Ali dinobatkan sebagai "Sportsman of the Century" oleh Sports Illustrated. Ia memenangkan kejuaraan World Heavyweight Boxing tiga kali dan memenangkan kejuaraan Amerika Utara Boxing Federation serta medali emas Olimpiade.

“I’m not the greatest; I’m the double greatest. Not only do I knock ’em out, I pick the round. “- Muhammad Ali

Ali lahir di Louisville, Kentucky pada tahun 1942. Dia bernama setelah ayahnya, Cassius Marcellus Clay, Sr. Ali kemudian mengubah namanya setelah bergabung dengan Nation of Islam. Ia kemudian dikonversi ke Islam Sunni pada tahun 1975.

karir awal tinju
Berdiri di 6'3 "(1,91 m), Ali memiliki gaya yang sangat tidak lazim untuk seorang petinju kelas berat. Ketimbang tinju gaya normal yang membawa tangan tinggi untuk mempertahankan wajah, ia malah mengandalkan kaki cepat dan kemampuan untuk menghindari pukulan. Di Louisville, 29 Oktober 1960, Cassius Clay memenangkan pertarungan profesional pertamanya. Dia memenangkan enam putaran atas Tunney Hunsaker, yang adalah kepala polisi dari Fayetteville, Virginia Barat. Dari tahun 1960 sampai 1963, pejuang muda Ali mengumpulkan rekor dari 19-0, dengan 15 KO.

Ia mengalahkan petinju seperti Tony Esperti, Jim Robinson, Donnie Fleeman, Alonzo Johnson, George Logan, Willi Besmanoff, Lamar Clark (yang telah memenangkan sebelumnya 40 pertarungan miliknya dengan KO), Doug Jones, dan Henry Cooper. Selama kemenangan Clay atas  Sonny Banks (yang membuatnya jatuh selama pertarungan), Alejandro Lavorante, dan Archie Moore (legenda tinju yang telah berjuang lebih dari 200 perkelahian sebelumnya, dan yang telah melatih Clay sebelum Angelo Dundee).

Clay mengalahkan Doug Jones, pertarungan mereka disebut sebagai "Fight of the Year" di tahun 1963. Pertarungan selanjutnya Clay adalah melawan Henry Cooper, yang memukul Clay ke bawah dengan hook kiri dekat akhir putaran keempat. Perkelahian itu berhenti di babak 5 karena luka dalam di wajah Cooper.
Perang Vietnam

Pada tahun 1964, Ali gagal masuk tes kualifikasi Angkatan Bersenjata karena keterampilan menulis dan mengejanya tidak memadai. Namun, pada awal 1966, tes direvisi dan Ali telah direklasifikasi 1A. Ia menolak untuk ikut di Angkatan Darat Amerika Serikat selama Perang Vietnam, karena "War is against the teachings of the Holy Koran. I’m not trying to dodge the draft. We are not supposed to take part in no wars unless declared by Allah or The Messenger. We don’t take part in Christian wars or wars of any unbelievers.” Ali also famously said,

Ali juga terkenal mengatakan,

“I ain’t got no quarrel with those Vietcong” and “no Vietcong ever called me nigger.”

Ali menolak untuk menanggapi ketika namanya dibaca sebagai Cassius Clay. Sebaliknya, ia mengatkan bahwa, seperti yang diperintahkan oleh mentor nya dari Nation of Islam, Clay adalah nama yang diberikan kepada nenek moyangnya yang seorang budak oleh orang kulit putih.

“Cassius Clay is a slave name. I didn’t choose it and I don’t want it. I am Muhammad Ali, a free name – it means beloved of God – and I insist people use it when people speak to me and of me.

Dengan menolak untuk menanggapi nama ini, kehidupan pribadi Ali penuh dengan pertarungan luar negeri di tahun 1966.

Dari pertandingan ulang dengan Liston Mei 1965, untuk pertahanan terakhirnya melawan Zora Folley pada Maret 1967, ia mempertahankan gelar sembilan kali. Beberapa juara kelas berat lainnya dalam sejarah telah berjuang begitu banyak dalam waktu singkat.

Ali dijadwalkan untuk melawan juara WBA Ernie Terrell dalam pertarungan unifikasi di Toronto pada 29 Maret 1966, tapi Terrell mundur dan Ali memenangkan keputusan 15 putaran terhadap pengganti lawan, George Chuvalo. Ia kemudian pergi ke Inggris dan mengalahkan Henry Cooper dan Brian London. Pertarungan berikutnya Ali adalah melawan kidal Jerman Karl Mildenberger, warga Jerman pertama yang bertarung untuk gelar sejak Max Schmeling. Dalam salah satu perkelahian keras dalam hidupnya itu, Ali berhasil mengalahkan lawannya di babak 12.


Ali kembali ke Amerika Serikat pada bulan November 1966 untuk melawan Cleveland "Big Cat" Williams di Houston Astrodome. Satu setengah tahun sebelum pertarungan, Williams telah ditembak di perut pada jarak dekat oleh seorang polisi Texas. Akibatnya, Williams bertarung dengan kehilangan satu ginjal, 10 kaki dari usus kecil, dan dengan kaki kiri keriput karena kerusakan saraf akibat peluru. Ali mengalahkan Williams di tiga putaran.

Pada tanggal 6 Februari 1967, Ali kembali ke ring tinju Houston untuk melawan Terrell. Terrell telah membuat marah Ali dengan memanggilnya Clay, dan juara bersumpah untuk menghukum dia untuk penghinaan ini. Selama pertarungan, Ali terus berteriak pada lawannya, “What’s my name, Uncle Tom … What’s my name.”

Terrell mendapatkan hukuman brutal di sepanjang 15 putaran, kehilangan 13 dari 15 putaran dari dua juri hakim, namun Ali tidak belum berhasil meng-KO-kan dia. Analis, termasuk beberapa yang berbicara kepada ESPN pada saluran olahraga "Ali Rap", berspekulasi bahwa pertarungan masih terus berjalan karena Ali memilih untuk tidak mengakhirinya, bukannya memilih untuk lebih menghukum Terrell. Setelah pertarungan, Tex Maule menulis, "Ini adalah demonstrasi yang indah dari keterampilan tinju dan kekejaman barbar di layar."

Tindakan Ali dalam menolak dinas militer dan menyelaraskan dirinya dengan Nation of Islam membuatnya menuai kontroversi. Ia bertransformasi menjadi salah satu tokoh yang paling dikenal dan kontroversial pada eranya. Ia muncul pada aksi unjuk rasa dengan pemimpin Nation of Islam, Elijah Muhammad dan menyatakan kesetiaannya kepadanya tepat ketika  warga Amerika melihat mereka dengan kecurigaan.

Menjelang akhir tahun 1967, Ali dicopot gelarnya oleh komisi tinju profesional dan tidak akan diizinkan untuk bertanding secara profesional selama lebih dari tiga tahun. Ia juga dinyatakan bersalah karena menolak induksi menjadi tentara dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Selama tahun-tahun di pengasingan, Ali berjuang untuk mengajukan banding. Dia berada tepat di sorotan publik dan mendukung dirinya sendiri dengan memberikan pidato terutama pada aksi unjuk rasa di kampus-kampus yang menentang Perang Vietnam.

Why should they ask me to put on a uniform and go 10,000 miles from home and drop bombs and bullets on brown people while so-called Negro people in Louisville are treated like dogs?”

- Muhammad Ali - menjelaskan mengapa ia menolak untuk berperang di Vietnam
Pada tahun 1970, Ali diizinkan untuk bertarung lagi.

The Fight of the Century
Ali dan Frazier berperang satu sama lain pada tanggal 8 Maret 1971, di Madison Square Garden. Pertarungan, yang dikenal sebagai ' "The Fight of the Century", adalah salah satu serangan paling dinantikan sepanjang masa dan tetap menjadi salah satu yang paling terkenal. Pertarungan ini menampilkan dua petinju terampil, pejuang tak terkalahkan, keduanya memiliki klaim yang wajar untuk mahkota kelas berat. Frazier mengakhiri pertarungan dengan kemenangan setelah membuat Ali terjatuh ke lantai dengan hook kiri keras di babak 15.

Pada tahun 1973,  Ali melakukan dua pertarungan dengan Ken Norton (dalam pertarungan di mana Ali kalah dari Norton, Ali menderita patah rahang).

Muhammad Ali di masa pensiun
Ali didiagnosis dengan penyakit Parkinson pada awal tahun 1980, sehubungan dengan fungsi motoriknya yang mulai mengalami penurunan secara lambat. Walaupun dokter Ali tidak setuju bahwa gejala-gejala ini disebabkan oleh tinju,  apakah kondisinya ini degeneratif atau tidak, Ali  akhirnya didiagnosis dengan Pugilistic Parkinson’s syndrome.

Pada akhir tahun 2005 dilaporkan bahwa kondisi Ali memburuk. Menurut dokumenter “When We Were Kings”, ketika Ali ditanya tentang apakah ia memiliki penyesalan tentang tinju karena cacat, ia menjawab bahwa jika ia tidak bertinju, maka dia masih akan menjadi seorang pelukis di Louisville, Kentucky.
Berbicara penyakit Parkinson sendiri, Ali menyatakan bagaimana penyakit ini telah membantunya untuk melihat kehidupan dalam perspektif yang berbeda.

“Maybe my Parkinson’s is God’s way of reminding me what is important. It slowed me down and caused me to listen rather than talk. Actually, people pay more attention to me now because I don’t talk as much.”
“I always liked to chase the girls. Parkinson’s stops all that. Now I might have a chance to go to heaven.”
Muhammad Ali, BBC

Meskipun cacat, ia tetap seorang tokoh masyarakat tercinta dan aktif. Baru-baru ini ia terpilih sebagai posisi 13 dalma Forbes Celebrity 100, di belakang Donald Trump. Pada tahun 1985, ia menjabat sebagai wasit tamu di acara inaugural WrestleMania. Pada tahun 1987 ia dipilih oleh California Bicentennial Foundation for the U.S. Constitutio  untuk mewujudkan vitalitas Konstitusi AS dan Bill of Rights di berbagai kegiatan profil tinggi.

Ali menunggang pelampung di 1988 Tournament of Roses Parade, meluncurkan peringatan ulang tahun ke-200 Konstitusi AS. Dia juga menerbitkan sebuah sejarah lisan, Muhammad Ali: His Life and Times with Thomas Hauser, pada tahun 1991. Ali menerima Spirit of America Award. Pada tahun 1996, ia mendapat kehormatan untuk menyalakan api pada Olimpiade 1996 di Atlanta, Georgia.

Pada tanggal 13 September 1999, Ali diberi nama "Kentucky Athlete of the Century" oleh Athletic Balai Kentucky of Fame dalam upacara di Galt House East.

Pada tahun 2001, sebuah film biografi berjudul Ali, dibuat, dengan Will Smith berperan sebagai Ali. Film ini mendapat tinjauan yang beragam, dengan positif umumnya dikaitkan dengan akting. Smith dan aktor pendukung Jon Voight meraih nominasi Academy Award. Sebelum membuat film Ali, Will Smith telah terus-menerus menolak peran Ali sampai Muhammad Ali secara pribadi meminta agar ia menerima peran.
Ali menerima Presidential Medal of Freedom pada upacara Gedung Putih pada tanggal 9 November 2005, dan "Otto Hahn peace medal in Gold" bergengsi dari Asosiasi PBB Jerman (DGVN) di Berlin untuk karyanya dengan gerakan hak-hak sipil AS dan PBB (17 Desember 2005).

Pada tanggal 19 November 2005 (ulang tahun pernikahan Ali 19), $ 60 juta bisnis non-profit Muhammad Ali Center dibuka di pusat kota Louisville, Kentucky. Selain menampilkan memorabilia tinju, pusat berfokus pada tema inti perdamaian, tanggung jawab sosial, rasa hormat, dan pertumbuhan pribadi.

Muhammad Ali meninggal pada 3 Juni 2016 karena penyakit pernafasan, kondisi yang merupakan komplikasi akibat penyakit Parkinson.

Demikianlah biografi Muhammad Ali, Sang Petinju legendaris Dunia
9:25 AM

Biografi Taufik Ismail - Sastrawan Indonesia

Salah satu tokoh sastrawan indonesia yang masih hidup hingga sekarang adalah Taufik Ismail.  Beliau adalah sastrawan kelahiran Bukittinggi, penyair Angkatan '66, yang syair-syairnya mendapat berbagai macam penghargaan.

Beliau dibesarkan di Pekalongan. Lahir tanggal 25 Juni 1935,  beliau tumbuh dengan keluarga yang rata-rata berprofesi sebagai guru dan wartawan. Pengaruh kuat dari sekeliling itulah yang membuat Taufik juga mengikuti jejak menjadi guru, bahkan profesi wartawan pun pernah dikerjakannya.

Pendidikan

Masa-masa sekolah beliau dihabiskan di beberapa tempat. SD di Solo, Semarang dan Yogyakarta. Sementara SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan. Beliau suka membaca sehingga memang bercita-cita menjadi sastrawan semenjak muda.  Namun dalam perkembangan, beliau memilih menjadi dokter hewan, sehingga memilih kuliah di FKHP-UI. Beliau lulus tahun 1963 namun gagal membuat usaha peternakan yang rencananya dibuka di satu pulai di Selat Malaka.

Selain kuliah di UI, beliau juga sempat mengenyam pendidikan di American Field Service International School, International Writing Program di University of Iowa, dan di Faculty of Languange and Literature, Mesir.


Sastrawan Indonesia
Jejak sastra beliau dimulai sejak SMA dengan sajak pertama yang berhasil dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah. Sampai saat ini, Taufiq telah menghasilkan puluhan sajak dan puisi, serta beberapa karya terjemahan. Karya-karya Taufiq pun telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, misalnya Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis.

Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali. Ia bahkan sempat menulis puisi ketika kasus video Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari beredar. Dibidang musik, Taufik juga mahir menciptakan lagu. Ia bersama Bimbo, Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap menjalin kerjasama di bidang musik tahun 1974.

Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia sempat batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Hal itu menyebabkan Taufiq dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964. Namun bagaimanapun, kenyataan tersebut tidak membuatnya putus asa dan berhenti berkarya.



Beberapa buku kumpulan puisi karya Taufik Ismail di antaranya adalah Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.

Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia (Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.). Di deretan jejak langkah Taufiq yang panjang tersebut, penyair dan kritikus sastra Indonesia Saut Situmorang memberitakan dalam media sastra yang diempunya bersama Katrin Bandel, Boemipoetra, bahwa Taufiq melakukan aksi plagiarisme atas karya penyair Amerika bernama Douglas Malloch (1877 – 1938) berjudul Be the Best of Whatever You Are.

Atas karya-karyanya itu, Taufik Ismail sudah dianugerahi beberapa penghargaan seperti t Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).

Baca juga biografi sastrawan Indonesia lainnya  :  Biografi W. S Rendra

Kritik Lagu Padamu Negeri
Saat menghadiri acara silaturahmi Iluni Bangkit untuk Keadilan di Taman Lingkar Universitas Indonesia, Jumat, 27 Januari 2017, beliau mengkritik lagu wajib nasional "Padamu Negeri (Bagimu Negeri)". Dia menyebut lagu ciptaan Kusbini tersebut menyesatkan.

Secara umum beliau mengapresiasi isi lirik lagu tersebut. Namun, beliau menilai dua baris terakhir, yakni "bagimu negeri jiwa raga kami" sangat bermasalah.

"Jiwa raga ini diberi karunia oleh Allah SWT, yang Maha Pencipta, dan jiwa ini kembali kepada Allah SWT, tidak pada yang lain," kata Taufik.

Lirik "Padamu Negeri" terdengar patriotik. Namun dia menyebut lirik tersebut sesat.
"Salah sekali (lirik yang itu), istilah ini musyrik," ucap Taufik.

Kasus Penodaan Agama Islam
Taufik Ismail juga turut dalam mengawal sidang ketujuh kasus penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Penyair ini membacakan puisi di mimbar bebas unjuk rasa anti Ahok di luar sidang gubernur Jakarta itudengan mengenakan jas Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia), membacakan puisi dan berpidato. Ia menuding, sedang ada gerakan menyudutkan ulama sebagaimana terjadi tahun 1965.